Super-Emotion Power

Emosi adalah reaksi manusia yang muncul atau menghadapi situasi tertentu. Paul Ekman dan Richard Lazarus menemukan 6 (enam) emosi dasar manusia yang universal yaitu  senang, marah, sedih, kaget, jijik dan takut. Sedangkan Richard G. Warga membagi 5 (lima) emosi dasar manusia yaitu senang, sedih, cinta, takut serta marah.

Ada yang membagi emosi menjadi 3 (tiga) kategori yaitu emosi negatif, positif dan netral. Anthony Dio Martin dalam buku Emotional Quality Management, mengatakan sebenarnya tidak ada “emosi baik” atau “emosi buruk” dan mengikuti Atkinson yang membedakan emosi hanya atas dua jenis, yakni “emosi yang menyenangkan” dan “emosi yang tidak menyenangkan”.

Emosi yang tidak menyenangkan seperti mudah marah, kecewa, jengkel, iri atau sakit hati dapat berakibat buruk pada kondisi fisik dan mental seseorang. Pada tahun 1976, Hans Selye dan kawan-kawan menemukan adanya hubungan erat antara emosi negatif dengan munculnya stress. Lebih lanjut stres akan memicu timbulnya penyakit jantung, hipertensi, sakit kepala, gangguan mental tertentu, alergi, asma dan juga kanker !

Kualitas emosi yang baik tentu saja berdampak pada kondisi kesehatan yang lebih baik pula. Kualitas emosi ini dinamakan kecerdasan emosi atau EQ (emotional quotient / emotional intelligent). Sebagai langkah awal untuk meningkatkan kecerdasan emosi menurut dua ahli EQ yakni Salovey & Mayer, ada lima 5 (lima) aspek penting yang perlu diperhatikan.

Aspek tersebut itu adalah :

  1. kesadaran diri (self awareness) : kemampuan mengobservasi dan mengenali perasaan yang dimiliki diri sendiri;
  2. mengelola emosi (managing emotios) : kemampuan mengelola emosi – termasuk yang tidak menyenangkan  – secara akurat, berikut memahami alasan di baliknya;
  3. memotivasi diri sendiri (motivating oneself) : kemampuan mengendalikan emosi guna mendukung pencapaian tujuan pribadi;
  4. empati (empathy) : kemampuan untuk mengelola sensitifitas, menempatkan diri pada sudut pandang orang lain sekaligus menghargainya; dan
  5. menjaga relasi (handling relationship) : kemampuan berinteraksi dan menjaga hubungan yang sehat dengan orang lain, disebut juga kemampuan sosial atau interpersonal.

Kita setuju emosi sebagai produk Super-Brain Power otomatis juga menjadi Super-Emotion Power. Pada contoh merokok pada Super-Mind Power, seseorang tidak dapat menghentikan kebiasaan merokok karena kekuatan program bawah sadar tidak menghendakinya.

Super-Emotion Power dapat menjadi kekuatan yang mungkin menggagalkan keinginan menghentikan kebiasaan merokok melalui perasaan nikmat, nyaman, tenang yang diperolah dengan merokok. Perasaan ini yang mendorong perokok meneruskan kebiasaannya walaupun tahu persis “Merokok menyebabkan penyakit jantung, penyakit paru-paru, impotensi, gangguan pada ibu hamil, bahkan kematian.”

Untuk kasus menghentikan kebiasaan merokok menggunakan Super-Emotion Power adalah memindahkan emosi yang muncul dari merokok seperti perasaan nikmat, nyaman, tenang dengan kebiasaan lain yang menyehatkan. Anda dapat memunculkan perasaan nikmat, nyaman, tenang pada kebiasaan berolah raga, mendengarkan musik, membaca buku atau kebiasan lain yang menyehatkan.

Khusus kasus kebiasaan merokok ada hal lain yang perlu dipertimbangkan bila kasus merokok tersebut terkait dengan munculnya kreativitas misalnya menciptakan lagu, lukisan, menulis atau karya-karya kreativitas lainnya. Pada kasus seperti ini, ada kemungkinan bila kebiasaan merokok langsung dihilangkan dapat menghilangkan juga kemampuan kreatif pada diri orang tersebut.

Untuk kasus ini penanganannya sebaiknya dikonsultasikan dengan terapis pengalaman seperti hypnotherapist. Yang dilakukan terdiri dari dari 2 (dua) tahap utama yaitu dengan memindahkan kemampuan kreatif pada kebiasaan yang baru dan selanjutnya baru menghilangkan kebiasaan merokok.

Catatan penting mengenai Super-Emotion Power adalah bahwa kesadaran dan pengakuan terhadap emosi yang muncul terutama emosi yang tidak menyenangkan, dapat membantu pertumbuhan EQ Anda menjadi lebih tinggi kualitasnya.

Misalnya marah, seringkali seseorang pada saat marah tidak menyadari dirinya marah dan orang tersebut tidak mampu mengakui dirinya marah maka semakin menguatkan emosi yang tidak menyenangkan pada dirinya. Ada juga yang menyesal setelah marah, hal ini positif karena orang tersebut menyadari dan mau mengakui dirinya marah. Hal ini semakin baik bila orang tersebut menggantikannya dengan emosi yang menyenangkan.

This entry was posted in General Article. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s